Jumat, 14 Januari 2011

APAKAH MEREKA MENCINTAI SEPAKBOLA(konflik ISL-LPI)....

Jika ada satu pertanyaan diajukan kepada dua tokoh, Nurdin Halid dan Arifin Panigoro, apakah mereka mencintai sepak bola? Saya yakin keduanya pasti mengatakan: Ya! Dan hal itu tidak bohong.
Kalau memiliki cinta yang sama pada satu objek, apakah keduanya dapat bersatu? Seperti lirik lagu, Cinta Tak Harus Bersatu. Dalam kondisi sekarang, rasanya hal itu mustahil. Keduanya bagaikan harimau bersua banteng di alam liar.
Pertikaian kadung terbuka dengan paham yang berbeda cara memutar organisasi. Titik temu yang pernah diusahakan beberapa waktu lalu sudah tenggelam ke dasar sungai deras. Bisa juga bak benang kusut yang sulit menemukan ujung pangkalnya.
Sekarang ini yang ada adalah kekerasan hati untuk tetap di jalan terpisah. Saling menegakkan bendera menurut paham masing-masing terhadap satu keyakinan. Unsur kebenaran dan kebohongan tak lagi penting karena terjebak niat menang sendiri.
Percuma kita memilah siapa benar dan salah sebagai penyebab peta sepak bola Indonesia menjadi kacau. Sasaran tembak oposan bukan lagi prestasi tim nasional. Kini target bergerak liar ke titik yang tak jelas dan lebih melibatkan ego pribadi.
Pembaca, kita sama, sama-sama bingung menyaksikan kompetisi sepak bola negeri ini. Laga bukan lagi dimainkan pemain 2 x 45 menit, tapi oleh para tokoh nasional dengan waktu tanpa batas. Situasi tambah parah karena ada tendensi Menpora tidak memosisikan diri di tempat netral.
Indonesia memang spesifik karena memiliki wilayah luas sehingga pernah memutar kompetisi dengan sistem tiga wilayah. Sejak 8 Januari 2011, sudah menjadi aneh karena ada dua kompetisi yang dikelola badan berbeda di lahan yang sama.
LPI (Liga Primer Indonesia) bergerak sendiri tanpa izin PSSI sebagai organisasi sah anggota KONI yang berafiliasi ke FIFA. Kompetisi LSI (Liga Super Indonesia) berputar di bawah BLI (Badan Liga Indonesia), badan sah bentukan PSSI.
Bergulirnya LPI merupakan wujud mosi tak percaya kepada PSSI akibat akumulasi kekecewaan. Arifin terpanggil menangkap opini publik yang anti-Nurdin Halid sehingga membuat kompetisi tandingan.
Tentu saja Nurdin menuding Arifin menawarkan produk ilegal dan dapat merusak semangat fair play sebagai roh sepak bola. Sebaliknya kubu Arifin menilai langkah mereka adalah alat perjuangan menuju sepak bola Indonesia sehat yang tak lagi menghabiskan uang APBD.
***
Namanya juga alternatif. Arifin tak kuasa merebut kepemimpinan PSSI sehingga mengambil jalan pintas. Terserah masyarakat menilai mana yang benar. Namun, harus diakui bahwa tindakan Arifin secara aturan baku tidak pada jalur yang tepat.
Adu kekuatan dan adu pengaruh. LPI berpromosi bahwa kompetisi ini merupakan liga profesional. Nyatanya, hampir tidak ada klub yang lahir lewat konsep bisnis matang.
Klub berpartisipasi karena mendapat subsidi dana dari badan yang sama. Cara seperti ini betul-betul instan. Mengaku alergi terhadap dana APBD, tapi sumber dana klub justru datang dari satu orang atau satu badan. Belum terlihat program jangka menengah bagaimana klub dapat hidup kalau subsidi berhenti.
Lihat lagi sedikit ke dalam. Para pemain dan pelaksana pertandingan merupakan kelompok di luar kompetisi reguler selama ini atau mereka yang sudah tidak lagi terpakai di ISL. Banyak pemain lama yang berusia di atas rata-rata 35 tahun kembali merumput.
Dari sini, tujuan LPI untuk memajukan sepak bola Indonesia belum terjawab. Memang ada beberapa pemain muda, tapi jumlahnya tak banyak. Lain hal bila Arifin dan LPI memutar kompetisi U-23 sebagai sentral pembinaan pemain masa depan.
Awalnya saya berharap LPI tidak sampai bergulir dengan Menpora sebagai mediator menyatukan semua potensi. Tapi emosi telah terbakar, tinggal bagaimana jangan sampai menjalar yang dapat mengundang FIFA turun dan menjatuhkan sanksi. PSSI tampaknya tak lagi membuka diskusi menggabungkan konsep dengan semangat juang LPI. Sudah patah arang dan ingin saling unjuk gigi menegaskan siapa paling kuat. LPI bergulir, PSSI merapatkan barisan dan konsolidasi internal.
Intrik yang ada dewasa ini sangat tidak sehat. Saya menjadi teringat ungkapan orang bijak soal filosofi layang-layang. Sepak bola kita sekarang ini seperti itu. Dari pada kamu dapat, saya tidak dapat, lebih baik sama-sama tidak dapat. Rusak sekalian.
Di balik kompetisi LPI ilegal, tetap harus menjadi pelajaran bagi PSSI. Apalagi nanti bila publik lebih memilih produk baru itu. Karena itu, PSSI harus lebih arif dan membuka diri. Menjalankan tuntutan reformasi misalnya dengan melakukan kongres penggantian pengurus tepat pada waktunya.
Kembali kepada dua tokoh kita tadi: Nurdin dan Arifin. Pengorbanan waktu dan materi telah diberikan dengan cara dan bentuk berbeda. Itu pertanda cinta dan kerinduan agar prestasi negeri ini mencapai level tinggi.
Biarlah apa yang telah mereka lakukan menjadi catatan sejarah. Biarlah publik bebas menilai positif atau negatif. Ke depan, pada pemilihan ketua baru, saya menyarankan Nurdin dan Arifin tidak perlu masuk sebagai kandidat. Berilah kesempatan kepada tokoh lain menjadi komandan.
Kalau sampai Nurdin atau Arifin lagi menjadi ketua, maka potensi konflik tak akan berakhir. Kalau mau terus konflik, lebih baik pindahkan ke ranah politik. Bawalah gempita sepak bola ke penonton, tapi jauhkan dari hiruk-pikuk intrik politik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar