Sabtu, 06 Agustus 2011

Pesepak Bola Muslim dan Ramadhan di Eropa + Video Tehnik Futsal....

Hidup di tengah-tengah industri sepakbola yang banyak akan godaan, seorang pesepakbola muslim di Eropa diuji ketetapan hatinya untuk tetap hidup sesuai dengan ajaran Islam, dan jika mereka berhasil hal itu menjadi kunci rahasia mengapa jarang pesepakbola muslim yang kehidupan pribadinya bermasalah. Dan itu juga yang membuat permainan mereka cenderung stabil serta emosi di lapangan senantiasa terjaga. Banyak pesepakbola muslim yang konsisten dengan Islam mengaku menemukan ketenangan dalam hidup, sumber kekuatan, dan kedamaian dalam Islam, berikut diantaranya:
1. Frederic Oumar Kanoute: Tetap menjalankan ibadah puasa saat Ramadhan meskipun harus bertanding selama 90 menit, dan suhu yang bisa mencapai 40 derajat celcius. Tahun lalu di bulan Ramadhan di Eropa siang hari lebih panjang waktunya daripada malam hari, matahari bersinar selama 13 jam dari pukul 6.30 pagi hingga 20.00. Dan pertandingan biasanya digelar 2 jam sebelum waktu berbuka puasa.
2. Jimmy Axl: Pemain sepakbola yang istiqamah mengikuti ajaran Islam, rutin mengkaji Al-Quran dan menjadikan Al-Quran panduan dalam menjalani hidupnya. Kiper tim Candi Fc ini senantiasa melafalkan beberapa ayat sebelum bertanding.
3. Kolo Toure: merasa sebagai seorang muslim dia harus menghormati orang lain. Kesuksesan dirinya selalu disebutnya berkat doanya kepada Allah.
4. Franck Ribery: Mualaf setelah menikahi seorang gadis Perancis keturunan Maroko. Memiliki nama Islam yaitu Frank Bilal Ribery. Menurutnya Islam membawanya pada keselamatan. Islam yang menjadi sumber kekuatannya di dalam maupun di luar lapangan. Di saat ia mengalami masa-masa sulit dalam karirnya, Islam datang memberikan kedamaian. Ribery mengaku sebagai seorang muslim yang tidak pernah meninggalkan sholat wajib 5 waktu.
5. Nicolas Anelka: Mualaf yang memeluk Islam saat bermain di klub Turki Fenerbache. Memiliki nama Islam yaitu Abdul-Salam Bilal. Dalam wawancara yang dimuat di Match, majalah terbitan Perancis Anelka berkata, "Islam adalah sumber kekuatan saya di dalam maupun di luar lapangan. Saya menjalani karier yang berat. Saya kemudian berketetapan hati untuk menemukan kedamaian. Dan akhirnya saya menemukan Islam." Anelka tetap menjalankan puasa 1 bulan penuh meskipun di tengah kompetisi.
6. Momo Sissoko serta Sulley Muntari: Mereka adalah pesepakbola muslim yang tetap memilih menjalankan puasa di bulan Ramadhan meskipun ada pertandingan.
7. Mahamadou Diarra dan Anthar Yahia (Bochum): Memilih tetap menjalankan puasa, menurut dia, berpuasa justru memberi kekuatan untuk mengatasi kesulitan.
8. Robin Van Persie: Seorang mualaf. Menurutnya Islam adalah agama yang indah dan lembut, di sini ia menemukan keteduhan dan ketenangan.
9. Mehdi Mahdavikia (Eintracht Frankfurt): Tidak mengalami hambatan berarti saat Ramadhan. Pemain yang kini berusia 32 tahun ini menata dietnya sedemikian rupa sehingga sanggup menjalani laga-laga keras di Liga Jerman (Bundesliga). "Saya selalu makan dan minum banyak saat sahur. Tanpa minum saat latihan pagi dan sore tak berpengaruh buat saya," kata Mahdavikia. Menjalani ibadah puasa dan bermain di salah satu liga keras di Eropa, diakui Mahdavikia sangat berat. Tapi, latihan dua kali sehari tak mengganggu langkah gelandang dan sayap kanan Iran di Piala Dunia 1998 dan 2006 ini

Kamis, 04 Agustus 2011

Dinikmati Bersama tanpa ada perbedaan


Sekitar 2.000 tahun lalu, setidaknya itu menurut catatan sejarah, kerajaan Cina punya sebuah kegiatan yang dijadikan hiburan di antara mereka. Namanya tsu chu, yang kemu­dian diterjemahkan sebagai menendang bola memakai kaki.
Benarkah sepak bola yang kini kita kenal berasal dari Cina? Menendang bola menuju sasaran berlubang kecil dengan diameter sekitar 30-40 cm dalam jaring yang berada di ketinggian sembilan meter dari tanah ternyata menjadi hiburan yang menyenangkan kaisar Cina ketika itu.

Bahkan, pada 255-206 sebelum masehi, kabarnya tsu chu digunakan untuk melatih tentara kerajaan Cina.

Sejarah pun mencantumkan orang-orang Jepang sebagai pengembang tsu chu. Mereka memilik nama sendiri untuk permainan menyenangkan itu, yakni kemari. Tapi catatan sejarah lain menyebutkan bahwa Jepang sesungguhnya memiliki permainan sejenis dengan tsu chu.

Well, sekitar 2.000 tahun sebelum masehi, orang Yunani kuno diketahui gemar memainkan permainan yang disebut episkiros. Mereka menendang dan melempar bola dalam sebuah area terbuka yang ditandai garis batas.

Menariknya, ketika itu episkiros dimainkan oleh 12 orang, terdiri dari pria dan wanita. Karena para pria bertubuh tegap dan atletis, mereka pun menjadikan episkiros sebagai ajang demonstrasi dan penghargaan atas tubuhnya.

Di era Kekaisaran Romawi, mereka meniru episkiros dengan menambahkan sejumlah trik dan kombinasi permainan. Namanya pun berubah menjadi harpastum, yang berarti permainan bola kecil.

Julius Caesar juga menggunakan harpastum untuk menjaga kebugaran fisik tentara sehingga siap untuk bertempur kapan saja.

Tentara belajar kepada sepak bola? Hmm, rasanya menjadi aneh ketika di sini pemain sepak bola kita yang diharuskan belajar dari tentara. Seolah ilmu disiplin dan contoh terbaik kerja sama tim hanya menjadi milik tentara.

Sejarah Roma mengatakan sepak bola menular ke orang Inggris ketika negara itu menduduki Roma. Tapi warga Inggris punya sejarah sendiri dalam pengakuan sebagai bangsa pencipta sepak bola.

Kita boleh setuju atau tidak, namun pria-pria Inggris mengaku sebagai pencipta sepak bola modern dengan aturannya. Olah raga ini sangat populer di Inggris pada abad ke-7. Mereka mengklaim sebagai penentu bagaimana sepak bola itu dimainkan oleh dua tim dalam mencari kemenangan.

Ada apa kok saya menggali kembali sejarah penciptaan sepak bola yang penuh riak pengakuan oleh beberapa bangsa?

Menikmati suasana di Stadion Gelora Bung Karno ketika Indonesia mengalahkan Turkmenistan 4-3 dalam perjalanan menuju Piala Dunia 2014, Kamis (28/7), membawa ingatan saya kepada asal-muasal sepak bola dan siapa pemiliknya.

"Football without frontiers". Masih ingat slogan di Piala Eropa 2000? Ya, kampanye bahwa sepak bola itu tanpa batas dipilih tuan rumah Belanda dan Belgia dalam upaya mengenyahkan rasialisme dari tubuh sepak bola.

Intinya, sepak bola sepantasnya dinikmati bersama tanpa ada perbedaan status, baik itu warna kulis, ras, hingga agama. Tujuannya tentulah agar olah raga ini berjalan damai dan menjadi hiburan seluruh pencinta sepak bola di muka bumi...........Okeeee Brooooo.......